ADMINISTRASI PERKANTORAN
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Administrasi dan Supervisi Pendidikan
Dosen Pengampu : Sumaryanta, M.Pd
Disusun oleh :
1. Heri Kiswanto (05430007)
2. Siti Muslimah (05430008)
3. Titik Shofiyanti (05430016)
4. Novi Pusparini (06600024)
5. Muhajarotul Amna (07600030)
PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2009
BAB I
PENDAHULUAN
Selama ini adminitasi hanya dipandang sebagai kegiatan tulismenulis belaka. Pandangan orang demikian ini tentu bukan tidak beralasan. Secara phisik kegiatan admninistasi memang banyak didominasi dalam kegiatan tulis menulis, baik menggunakan tangan, alat tulis, mesin ketik atau komputer. padahal banyak teori yang mengatakan kegiatan administrasi lebih dari pada itu. Bahkan ada yang lebih keterlaluan lagi bahwa administrasi hanya dipandang sebagai kegiatan pendukung saja dalam melengkapai kegiatan yang ada di lapangan.
Tidak semuanya pandangan demikian itu benar. Kegiatan administrasi atau tulis-menulis atau lebih dikenal dengan ketata usahaan di sebuah lembaga mempunyai out put yang sangat penting, terkait di berbagai bidang, baik hukum, sosial maupun ekonomi dan lain-lain, sehingga tidak bisa dipandang kurang penting fungsinya. Lebih-lebih produk administrasi yang berupa dokumen seperti Ijazah, Sertifikat dan surat-surat penting lainnya akan mempunyai nilai tinggi sekali di mata hukum, jika akurasi isinya dijamin benar.
Oleh karena itu keakuratan data administrasi menunutut kejujuran dan kedisiplinan baik pelaksana maupun pengelolanya, karena produk administrasi yang demikian ini biasanya digunakan untuk memperkuat bukti-bukti hukum.
Dalam bidang pendidikan, kebutuhan informasi mulai tentang data lembaga, sarana kurikulum sampai dengan data asal dan kondisi ekonomi siswa, banyak ditanyakan baik oleh perorangan maupun lembaga-lembaga pemerintah dan swasta. Dalam rangka memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat umum, tentu hal ini menjadi tantangan bagi para pemikir administrasi pendidikan untuk menciptakan format data administrasi pendidikan dan sistem pengelolaan data administrasi kependidikan yang mampu mengakomodir berbagai keperluan.. Seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin cepat ini, sudah barang tentu format administrasi pendidikan harus kapable terhadap teknologi informasi saat ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Administrasi
Secara etimologis, administrasi berasal dari bahasa latin yang terdiri dari kata ad yang berarti intensif dan ministraire yang berarti to serve (melayani). Literatur lain menjelaskan bahwa administrasi merupakan terjemahan dari bahasa Inggris yaitu administration yang bentuk infinitifnya adalah to administer. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (1974), kata administer diartikan sebagai to manage (mengelola) atau to direct (menggerakkan) (Ulbert Silalahi 1992: 2-3). Kata administrasi juga berasal dari bahasa Belanda, yaitu administratie yang meliputi kegiatan catat mencatat, surat menyurat, pembukaan ringan, ketik mengetik, agenda dan sebagainya yang bersifat teknis ketatausahaan (clrecical work) (Suwarno Handayaningrat, 1988: 2)
Secara ilmu, menurut Leonard D. White (dalam Introduction to Study of Public Administration), administrasi adalah suatu proses yang pada umumnya terdapat pada semua usaha kelompok Negara atau swasta, sipil atau militer, usaha yang besar atau yang kecil dan sebagainya. Sementara itu The Liang Gie (1980) menyatakan bahwa administrasi adalah segenap rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan pokok yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam kerja sama mencapai tujuan tertentu. William H. Newman (dalam Administrative Action The Techniques of Organization and Management) mendefinisikan administrasi sebagai pembimbingan, kepemimpinan dan pengawasan usaha-usaha suatu kelompok orang-orang ke arah pencapaian tujuan bersama. Sondang P. Siagian (dalam Filsafat Administrasi) berpendapat bahwa administrasi merupakan keseluruhan proses kerjasama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Sementara itu Dwight Waldo (1971) mendefinisikan administrasi sebagai suatu daya upaya manusia yang kooperatif yang mempunyai tingkat rasionalitas yang tinggi. Dengan demikian pengertian administrasi dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu :
1. Pengertian administrasi dalam arti sempit
Administrasi dalam arti sempit adalah kegiatan penyusunan dan pencatatan data dan informasi secara sistematis dengan maksud untuk menyediakan keterangan serta memudahkan memperolehnya kembali secara keseluruhan dan dalam hubungannya satu sama lain. Administrasi dalam arti sempit inilah yang sebenarnya lebih tepat disebut tata usaha (clerical work / office work). Seluruh kegiatan ketatausahaan dapat dirangkum dalam tiga kelompok, yaitu korespondensi, ekspedisi, dan pengarsipan.
2. Pengertian administrasi dalam arti luas
Administrasi dalam arti luas adalah kegiatan kerjasama yang dilakukan sekelompok orang berdasarkan pembagian kerja sebagaimana ditentukan dalam struktur dengan mendayagunakan sumber daya-sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Jadi administrasi dalam arti luas memiliki unsur-unsur : sekelompok orang, kerjasama, pembagian tugas secara terstruktur, kegiatan yang runtut dalam proses, tujuan yang akan dicapai, dan memanfaatkan berbagai sumber.
B. Pengertian Administrasi Perkantoran
Dalam kepustakaan banyak dirumuskan definisi mengenai Administrasi Perkantoran (Office Management) oleh para ahli. Dari banyak definisi-definisi tersebut dapat dirangkumkan bahwa administrasi perkantoran merupakan rangkaian aktivitas merencanakan, mengorganisasi (mengatur dan menyusun), mengarahkan (memberikan arah dan petunjuk), mengawasi, dan mengendalikan (melakukan kontrol) sampai menyelenggarakan secara tertib sesuatu hal.
C. Sasaran Kegiatan Adminitrasi Perkantoran
Sasaran yang terkena oleh rangkaian kegiatan itu pada umumnya adalah pekerjaan perkantoran (0ffice work) Walaupun demikian, sasaran kegiatan Administrasi Perkantoran sebenarnya lebih luas lagi cakupannya. Seperti yang disusun oleh Charles Libbey adalah sebagai berikut :
1) Ruang perkantoran (Office Space)
Ruang perkantoran meliputi Perkiraan kebutuhan ruang; Pemanasan dan peredaran udara; Pendinginan udara; Pantulan suara; Lukisan; Fasilitas kebersihan; Ruang pertemuan; faktor keselamatan; Pemindahan kantor; Perubahan-perubahan; Pemeliharaan.
2) Komunikasi (Communication)
Komunikasi meliputi Pengiriman surat; Pelayanan pesuruh; Pipa hantaran; Telepon; Susunan kabel; Pendiktean telepon; Sisitem telepon antar kantor; Telegraf dan pelayanan kawat; Telex; Faximiles; Papan pengumumman; Pelayanan terima tamu.
3) Kepegawaian Perkantoran (Office Personnel)
Kepegawaian Perkantoran meliputi Pemilihan; Perkenalan; Latihan; Pengujian; Kenaikan pangkat; Pergantian; sistem saran; Pengerahan pegawai; Keterlambatan; persoalan mangkir; Wawancara pemberhentian; Fasilitas ruang makan siang; Semangat kerjasama; Disiplin; Pensiun; Pengaduan.
4) Perabotan dan Perlengkapan (Furniture and Equipment)
Perabotan dan perlengkapan meliputi Meja kerja; Kursi; Meja panjang; Perlengkapan arsip; Ruang dan peti besi; Perabotan fungsional; Perabotan gudang; Pemeliharaan dan perbaikan; Perlengkapan acuan; Lemari perbekalan dan penempatan rak; Cagak Pakaian; Perabotan perpustakaan; Penilaian perlengkapan baru.
5) Peralatan dan Mesin (Appliances and Machines)
Peralatan dan Mesin meliputi Mesintik; Mesin tambah; Mesin faktur; Mesin pembukuan; Mesin hitung; Perlengkapan dikte; Perlengkapan kirim surat; Peralatan terlihat (Visible applince); dan lain-lain perkantoran; Perlengkapan kebersihan; Perlengkapan penggandaan; Pemeliharaan dan perbaikan; Penilaian peralatan dan mesin baru.
6) Perbekalan dan Keperluan Tulis (Supplies and Stationary)
Perbekalan dan keperluan tulis meliputi Barang-barang keperluan tulis; Kertas surat; Formulir; Perbekalan kebersihan; perbekalan penggandaan; Penilaian perbekalan baru.
7) Metode
Metode meliputi pengolahan bahan keterangan; Penyelidikan perkantoran; Pengukuran hasil kerja tulis; Penjadwalan prosedur rutin; Prosedur pembagaan; (Charting procedures); Pemakaian film; Analisis statistik.
8) Warkat (Records)
Warkat meliputi pengkoordinasian formulir; Perancangan formulir; Pelayanan surat-menyurat; pola surat; Peninjauan surat-menyurat; Pusat pengetikan; (Typing rools); Metode pelaporan; Penyelidikan; Penyingkiran warkat (Disposal of records); Pembuatan mikrofilm; Jadwal penyimpanan; Praktek kearsipan dan penyimpanan.
9) Kontrol Pimpinan Pelaksana (Executive Controls)
Kontrol pimpinan pelaksana meliputi Perencanaan organisasi; Pemusatan atau pemencaran pelayanan; perencanaan anggaran; Perkiraan (Forecasting); Pedoman petunjuk kerja; Koperensi; Latihan pemindahan tugas; Analisis tugas pekerjaan; Pembakuan gaji.
Namun selain yang di atas, ada dua pandangan mengenai pengertian administrasi yaitu administrasi sebagai ilmu dan pengertian administrasi sebagai seni. Administrasi sebagai ilmu (Science) atau ilmu terapan, karena kemanfaatannya dapat dirasakan apabila prinsip-prinsip, rumus-rumus, dalil-dalil diterapkan untuk meningkatkan mutu pelbagai kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan administrasi sebagai seni (Art) merupakan karya seseorang yang dipraktekkannya dengan baik yang diperolehnya dari pengalaman tanpa sebelumnya mempelajari teori-teori administrasi. la berhasil dan sukses melaksanakan tugasnya tanpa memperoleh pendidikan tentang teori-teori dan asas-asas yang berkenaan dengan administrasi. Walaupun demikian ia memperoleh kemahiran di dalam bidang administrasi berdasarkan pengalaman di dalam melaksanakan tugasnya.
D. Tata Usaha Sebagai Pekerjaan Perkantoran
Pekerjaan perkantoran (Office work) disebut juga clerical work (pekerjaan tulis) atau paper work (pekerjaan kertas). Pekerjaan perkantoran meliputi penyampaian keterangan secara ligan dan pembuatan warkat-warkat tertulis laporan-laporan sebagai cara untuk meringkaskan banyak hal dengan cepat guna menyediakan suatu landasan fakta bagi tindakan kontrol dari pimpinan (George Terry dalan Liang Gie, Administrasi Perkantoran Modern, 1992).
a. Pengertian Tata Usaha
Menurut konsep office work yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan tata usaha", adalah segenap rangkaian aktivit as menghimpun, mencatat, mengolah, mengganda, mengirim dan menyimpan eterangan-keterangan yang diperlukan dalam setiap organisasi. Jadi tata usaha menurut intinya adalah tugas pelayanan di sekitar keterangan-keterangan yang berwujud pada 6 pola kegiatan:
1.1. Menghimpun: yaitu kegiatan-kegiatan mencari dan mengusahakan tersedianya segala keterangan yang tadinya belum ada atau berserakan dimana-mana sehingga slap untuk dipergunakan bila diperlukan.
1.2. Mencatat: yaitu kegiatan membubuhkan pelbagai peralatan tulis keterangan-keterangan yang diperlukan sehingga berupa tulisan yang dapat dibaca, dikirim dan disimpan.
1.3. Mengolah: yaitu berbagai kegiatan mengerjakan keterangan-keterangan maksud untuk di sajikan dalam bentuk yang lebih berguna.
1.4. Menggandakan: yaitu kegiatan memperbanyak keterangan-keterangan dengan berbagai cara dan alat sebanyak jumlah yang diperlukan.
1.5. Mengirim: yaitu kegiatan menyampaikan dengan cara atau alat dari satu pihak kepada pihak lain.
1.6. Menyimpan: yaitu kegi atan menaruh dengan berbagai cara dan alat di tempat tertentu yang aman.
Dari keenam pola perbuatan tersebut diatas terlihat bahwa yang menjadi sasaran adalah keterangan (intormasi). Dalam perkembangannya keterangan itu bisa berciri visual dan berciri audial. Keterangan visual dapat berbentuk tulisan atau gambaran dan berupa warkat (record). Sedangkan keterangan audial bisa berbentuk rekaman dan fisiknya berupa pita (tape). Bahkan kini sudah pada taraf penggambungan keterangan visual dengan keterangan audial dalam wujud pita video yang sekaligus bisa dibaca tulisannya dan dilihat gambarnya serta didengar keterangannya. Namun dalam kenyataan saat ini pita video belumlah merupakan perlengkapan yang umum disetiap kantor.
Akan tetapi tatausaha yang mencakup 6 pola perbuatan tersebut diatas, tidak merupakan suatu urutan waktu. Masing-masing kegiatan tersebut bahkan dapat berlangsung sendiri-sendiri ataupun dalam suatu rangkaian mulai dari aktivitas yang manapun. Pada kelanjutannya masing-masing pola kegiatan itu dapat meliputi berbagai pelaksanaan kerja yang lebih terperinci.
Tatausaha terdapat dalam setiap organisasi. Adanya pekerjaan tatausaha ini menentukan adanya suatu hubungan kerja antara satuan-satuan organisasi balk dari atas kebawah atau sebaliknya maupun secara horisontal atau menyilang. Dalam hal ini hubungan karena ketatausahaan ini tidak menyangkut perintah dan tanggung jawab melainkan penyampaian keterangan-keterangan dalam rangaka memberikan pelayanan kepada pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan operatif. Hubungan ini pada umumnya diwujudkan dalam bentuk surat, formulir, salinan, tembusan, atau sesuatu macam warkat lainnya.
Dalam membahas tatausaha sebagai pekerjaan perkantoran, tidak terlepas dari adanya pengertian tentang "kantor" (office). Dalam hal kaitannya dengan pengertian tatausaha kantor adalah tempat di mana kegiatan tatausaha kantor adalah tempat di mana kegiatan tatausaha dilaksanakan. Bahkan kantor telah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam setiap organisasi yang ingin mencapai sesuatu tujuan. Seorang tokoh pelopor office management Amerika Serikat "Coleman maze" mengatakan bahwa Kantor tatausaha dahulu hanya dianggap tidak lebih daripada titk temu dari tata hubungan ke dalam dan ke luar rang hanya mampu kadangkala mengirim beberapa surat dan menyiapkan warkat-warkat yang tidak mempunyai nilai praktis. Namun sekarang pengertian Kantor dipandang sebagai jasad hidup yang sangat penting.
b. Peranan Tata Usaha
Untuk melaksanakan setiap pekerjaan operatif dalam suatu organisasi diperlukan "rata usaha" yang baik dan rapi. Pada pokoknya tata usaha mempunyai 3 peranan :
2.1. Melayani pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan operatif untuk mencapai tujuan dari organisasi.
2.2. Menyediakan keterangan-keterangan bagi pucuk pimpinan organisasi untuk membuat keputusan atau melakukan tindakan yang tepat.
2.3. Membantu kelancaran pekerjaan organisasi sebagai suatu keseluruhan kaena fungsinya sebagai pusat ingatan dan sumber dokumen.
Dengan demikian tata usaha mempunyai 3 ciri utama yaitu :
a. Bersifat pelayanan;
b. Bersifat merembes kesegenap bagian dari organisasi;
c. Dilaksanakan oleh semua pihak dalam organisasi.
E. Hal-hal yang termasuk Administrasi Perkantoran dalam Pendidikan
Administrasi perkantoran di sekolah meliputi kegiatan pelayanan keamanan, kebersihan dan keindahan, pelayanan tamu, pelayanan telepon, pelayanan kepegawaian, pelayanan kesiswaan, pelayanan keuangan, pelayanan umum, pelayanan surat menyurat dan ekspedisi.
1) Pelayanan Keamanan, Kebersihan, dan Keindahan
Pelayanan keamanan tugasnya meliputi menata dan mengamankan parkir kendaraan pegawai dan tamu, mencatat dan melaporkan tamu yang datang dan pulang, serta mengamankan lingkungan sekolah.
Pelayanan kebersihan dan keindahan petugas kebersihan dan keindahan, dengan melibatkan pula beberapa orang guru pembina 7K dan siswa, serta guru piket.
2) Pelayanan Tamu dan Telepon
Pelayanan tamu dilakukan oleh satu orang petugas penerima tamu, yang bertugas memandu tamu sesuai dengan maksud dan tujuan si tamu. Sedangkan pelayanan telepon terbatas pada melayani telepon yang masuk, lalu meneruskan atau menindak-lanjuti sesuai dengan maksud dan tujuan si penelepon.
3) Pelayanan kepegawaian
Pelayanan kepegawaian meliputi: melengkapi arsip data kepegawaian setiap individu pegawai pada file yang tersedia, mengisi daftar induk kepegawaian, membuat laporan bulanan keadaan pegawai, mengurus secara administrasi mengenai usul-usul kepegawaian seperti usul PAK, usul kenaikan pangkat, usul kenaikan gaji berkala, usul mutasi tugas atau mutasi jabatan, permintaan cuti/izin, membuat data dan analisis kepegawaian, dan lain-lain. Pelayanan kepegawaian dilakukan secara manual dan digital sesuai dengan kebutuhan.
4) Pelayanan kesiswaan
Pelayanan kesiswaan meliputi tugas-tugas: membuat klapper, mengisi daftar induk siswa, data keadaan siswa setiap bulan, surat menyurat kesiswaan dan administrasi pembinaan kesiswaan. Semuanya dilakukan secara manual dan digital sesuai dengan kebutuhan.
5) Pelayanan keuangan
Pelayanan keuangan berupa daftar pembayaran gaji/honor/dana transportasi/dsb, membuat RAPBS bersama dengan tim khusus, pengadaan ATK/operasional sekolah, proposal pendanaan/subsidi bekerja sama dengan komite sekolah/instansi terkait, dan lain-lain. Semua kegiatan dilakukan secara manual dan digital sesuai dengan kebutuhan.
6) Pelayanan umum
Pelayanan umum meliputi: persuratan dan kegiatan administrasi umum, yang tidak memerlukan penanganan khusus seperti legalisir, penggandan dengan mesin stensil, dokumentasi kegiatan, konsumsi/akomodasi, penyajian data dan sejenisnya.
7) Pelayanan surat menyurat dan ekspedisi
Surat menyurat dan ekspedisi dilakukan oleh petugas khusus agar terjamin keakuratan, penyampaian dan efektivitasnya. Selain dari itu untuk memudahkan pengecekan jika dibutuhkan dan jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan sehubungan dengan surat-menyurat yang ada.
BAB III
PENUTUP
Administrasi perkantoran merupakan bagian dari administrasi secara umum, karena itu dalam administrasi perkantoran, diterapkan sesuai dengan makna dan tujuan administrasi itu sendiri, sebagaimana teori administrasi yang telah diuraikan di atas.
Administrasi yang baik membutuhkan office management yang baik pula, dan office management yang baik membutuhkan seorang office manager yang baik. Office manager yang baik harus pula memiliki seorang administrator yang baik, yang mampu memberdayakan semua potensi yang ada dalam organisasi yang dipimpinnya secara harmonis dan berkesinambungan.
Disarankan kepada semua sekolah, agar mampu dan jeli dalam menggali dan memberdayakan setiap potensi yang ada di sekolah supaya tercapai tujuan bersama berupa pelayanan adminsitrasi yang prima.
DAFTAR PUSTAKA
Sihombing, Marlon. ADMINISTRASI PERKANTORAN. Universitas Sumatera Utara : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
SUGIARTO. MAKALAH “FORMAT BAKU DATA ADMINISTRASI DAN SISTEM PENGELOLAAN DATA ADMINISTRASI KEPENDIDIKAN YANG MENDUKUNG PELAYANAN PENDIDIKAN”. PROBOLINGGO : SMK. “AHMAD YANI”.
Susanto. Administrasi Perkantoran SMP Negeri 2 OKU.
SANDHYARINI , SAPUTRI. ADMINISTRASI PENDIDIKAN SEBAGAI SUATU SISTEM DALAM SEKOLAH MENENGAH . PROBOLINGGO SMP NEGERI 9.
Senin, 14 Desember 2009
ETIKA ILMU
ETIKA ILMU
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah
Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu : M. Sudin, M.Si
Disusun Oleh :
Nama : Novi Pusparini
NIM : 06600024
PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2008
ETIKA ILMU
1. Pengertian Ilmu Pengetahuan
Kata ilmu merupakan terjemahan dari kata science, yang secara etimologi berasal arti kata Latin scinre artinya to know. Dalam pengertian yang sempit sciene diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan obyektif.
Menurut Harold H. Titus, ilmu (science) diartikan sebagai common sense yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi, yang teliti dan kritis.
Menurut Prof. dr. Mohammad Hatta : “Tiap-tiap ilmu adalah penetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya maupun menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunnya dari dalam.”
Prof. Dr. A. Baiquni Guru Besar Universitas Gajah Mada merumuskan bahwa : “Science merupakan general consensus dari masyarakat yang terdiri dari para scientist.”
Dari beberapa pengertian ilmu di atas, dapat dipeoleh gambaran yang lebih jelas apa yang disebut dengan ilmu. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
2. Kegunaan Ilmu Pengetahuan
Ilmu menghasilkan teknologi, yang memungkinkan manusia dapat bergerak atau bertindak dengan cermat dan tepat, karena ilmu dan teknologi merupakan hasil kerja pengalaman, observasi, eksperimen dan verifikasi.
Dengan ilmu dan teknologi, manusia dapat mengubah wajah dunia di mana manusia tinggal, mengubah cara manusia bekerja, cara manusia berfikir. Dengan ilmu dan teknologi dituntut manusia untuk mengadakan perubahan secara terus-menerus, perbaikan serta penemuan-penemuan baru. Perkembangan industri, perkembangan sosio-budaya, juga perkembangan industri persenjataan merupakan suatu pertanda bahwa ilmu dan teknologi akan berkembang terus.
Dengan ilmu dan teknologi, memungkinkan manusia untuk mengurangi rintangan-rintangan ruang dan waktu, misalnya dengan sistem komunikasi modern, di mana suatu peristiwa yang terjadi pada suatu titik di dunia ini, dalam waktu yang relatif singkat, dengan segera dapat diketahui ke seluruh pelosok dunia.
Beberapa contoh di bawah ini adalah kegunaan dari ilmu dan teknologi bagi kehidupan manusia. Biologi, fisika, matematika, kimia sebagai ilmu murni telah menyumbangkan berbagai teori dan hukum-hukumnya kepada ilmu kedokteran sebagai ilmu terapan (ilmu guna pakai) dalam usaha manusia untuk:
Menghindarkan diri dari penyakit
Menyembuhkan penyakit
Memperbaiki usaha-usaha kehidupan untuk hidup sehat
Dan sebagainya
Fisika modern dewasa ini telah membantu manusia untuk meningkatkan kehidupannya melalui elektro ataupun elektromagnetiknya. Dalam hal ini disebutkan masalah penerangan, masalah komunikasi dengan kapal-kapal jet supersonik dan masih banyak lainnya.
Meskipun ilmu dan teknologi banyak mendatangkan manfaat bagi manusia, namun ada beberapa kekurangan, mungkin dianggap berbahaya karena :
• Ilmu itu obyektif, mengesampingkan penilaian yang sifatnya subyektif, ia mengesampingkan tujuan hidup, sehingga dengan demikian ilmu dan teknologi tidak bisa dijadikan pembimbing bagi manusia dalam menjalani hidup ini.
• Manusia hidup dalam jangka waktu yang panjang, jika ia terbenam dalam dunia fisik, maka akan hampa dari makna hidup yang sebenarnya.
3. Landasan Bagi Eksistensi Ilmu pengetahuan
Kaitan ilmu dengan moral merupakan kontroversi yang tak kunjung padam. Gejala ini mewnyebabkan kekacauan dan salah tafsir mengenai hakikat keilmuan sering terdengar pernyataan yang bersifat umum seperti “ilmu adalah netral” atau “ilmu atidak terbebas dari nilai bisa menyesatkan dn hanya bisa ditafsirkan dengan benar sekiranya dikaitkan dengan aspek atau komponen keilmuan. Komponen tersebut adalah :
a. Ontologi
Secara ontologis, ilmu membahas lingkup penelaah keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Obyek penelaah yang berada dalam batas prapengalaman dan pascapengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas-batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistemologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris kedalam proses penemuan/ penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah.
Penafsiran metafisik keilmuan harus didasarkan kepada karakteristik obyek ontologis sebagaiman adanya (das sein) dengan deduksi-deduksi yang dapat diverifikasi secara fisik.
Secara metafisik ilmu terbebas dari nilai-nilai yang bersifat dogmatik. Galileo (1564-1642) menolak dogma agama bahwa “matahari berputar mengelilingi bumi” sebab pernyataan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan faktual sebagaimana ditemukan oleh Copernicus (1473-1543). Begitu juga menurut Bacon, filsafat harus dipisahkan dari teologi. Pandangan ini sebagai salah satu faktor munculnya paham sekularisme di Barat. Hal ini dapat dimaklumi bahwa dogma agama saat iru bukan hanya dianggap tidak rasional, melainkan bertentangan dengan penemuan ilmiah.
Untuk membebaskan ilmu dari nilai-nilai yang bersifat dogmatis yang datang dari manapun juga asalnya, bukan berarti ilmu harus menolak nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat, namun sifat dogmatis itulah yang secara prinsip ditentang.
Menurut sejumlah kaum objektivisme atau positivisme, seorang sejarawan misalnya, hendaknya menghindari setiap pertimbangan nilai sendiri yang manapun terhadap gejala-gejala yang termasuk dalam lapangan penyelidikannya. Kiranya sukar untuk menentukan secara tepat sejauh mana ia boleh bertindak, dan dimanakah secara tepat batas yang tidak boleh dilampauinya, agar ia tidak dikatakan melampaui wewenangnya. Sebetulnya hal semacam ini tidak perlu dipertentangkan, sebab kecenderungan untuk memaksakan nilai-nilai moral secara dogmatik ke dalam argumentasi ilmiah akan mendorong ilmu surut ke belakang ke zaman pra Copernicus dan mengundang kemungkinan berlangsunnya inquisisi ala galileo pada zaman modern, namaun hal ini jangan ditafsirkan bahwa dalam menelaah das sein ilmu terlepas sama sekali dari das sollen.
b. Epistimologi
Landasan epistimologi ilmu yang tercermin secara operasional dalam metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan : (1) kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun; (2) menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut dan (3) melakukan verifikasi terhadap hipotesis termasuk untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual.
Metodologi dalam penelitian memegang peranan penting; sebab metode yang dipergunakan dalam suatu penelitian dapat digunakan untuk mengukur seberapa jauh kadar kebenaran hasil penemuan. Di Barat, metodologi bagi para ilmuwan tidak banyak kesulitan, tetapi bagi orag Timur khususnya di Indonesia penerapan metode penelitian masih perlu dipertanyakan. Padahal setiap kegiatan ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual. Sehingga ilmu pengetahuan dalam arti sepenuhnya sulit berkembang di Indonesia selama kejujuran diabaikan, budaya nyontek masih tetap berjalan, manipulais data untuk membenarkan hipotesisnya masih diupayakan.
c. Aksiologi
Pada dasrnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia. Dalam hal ini ilmu dapat dimanfaatka sebagai sarana dalam meningkatkan taraf hidup, manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia dan kelestrian/keseimbangan alam. Salah satu alasan untuk tidak mencampuri masalah kehidupan secara ontologis adalah kekhawatiran bahwa hal ini akan mengganggu keseimbangan kehidupan.
Demi kepentingan manusia tersebut maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komunal dan universal. Komunal berarti bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti bahwa ilmu tidak mempunyai parokial seperti ras, ideologi atau agama.
Jika manusia menyadari sepenuhnya bahwa keberadaan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan manusia, maka tidak akan pernah terjadi peperangan di muka bumi ini. Peperangan, pembantaian yang menimbulkan korban yang tidak sedikit jumlahnya tidak dapat dihindarkan, hal ini menunjukan bahwa persepsi dan pandangan terhadap kemaslahatan pun tidak ada kesamaan, sehingga maslahat bagi satu pihak mudarat bagi pihak lain.
4. Etika Ilmu : Problem Nilai dalam Ilmu
Istilah etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat-kebiasaan. Dalam istilah lain dinamakan moral yang berasal dari bahasa Latin mores, kata jamak dari mos yang berarti adat-kebiasaan. Dalam bahasa Arab disebut akhlak yang berarti budi pekerti dan dalam bahasa Indoesia dinamakan tata-susila.
Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Selain etika yang termasuk dalam kajian aksiologis adalah estetika atau teori tentang keindahan. Etika sering disamakan dengan moralitas,padahal berbeda. Moralitas adalah nilai-nila perilaku orang atau masyarakat sebagaimana bisa ditemukan dalam kehidupan real manusia sehari-hari, yang belum disistematisasi sebagai suatu teori. Ketika perilaku-perilaku moral dirumuskan menjadi teori-teori, maka ia disebut sebagai etika. Jadi etika secara umum bisa dikatakan sebagai theoris, or philosophical study, of human moral values and conducts atau teori-teori atau studi filosofis tentang perilaku moral manusia. Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral, prinsip-prnsip moral dasar apa yang harus manusia ikuti, dan apa yang baik bagi manusia.
Dalam etika yang lebih ditekankan adalah masalah nilai baik dan buruknya suatu tindakan manusia, bukan masalah kebenaran suatu perbuatan manusia. Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis, yakni asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik atau buruk, yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakatdan seringkali tanpa disadari, menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. Dalam pengertian ini, etika sama dengan filsafat moral. Kata baik tersebut memiliki konotasi apakah perbuatan seseorang itu mempunyai nilai kebaikan bagi orang lain, maksudnya tidak merugikan bagi eksistensi orang lain dan malah sebaliknya member manfaat. Ketika berbicara etika dalam kaitannya dengan ilmu berarti menyangkut persoalan-persoalan nilai dalam ilmu baik isinya maupun penggunaannya, apakah ilmu adalah bebas nilai atau tidak ada keterkaitan sama sekali dengan etika dan apakah ilmu itu tidak bebas nilai atau terkait erat dengan etika..
a. Paradigma Bebas Nilai dalam Ilmu
Paradigma ilmu bebaas nilai atau dalam bahasa Inggris sering disebut dengan value free mengatakan bahwa ilmu dan juga teknologi adalah bersifat otonom. Ilmu secaara otonom tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan nilai. Pembatasan-pembatasan etis hanya akan menghalangi eksplorasi pengembangan ilmu. Bebas nilai berarti semua kegiatan terkait dengan penyelidikan ilmiah harus disandarkan pada hakikat ilmu tu sendiri. Ilmu menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu itu sendiri. Josep Situmorang menyatakan bahwa sekurangnya ada tiga faktor sebagai indikator bahwa ilmu itu bebas nilai, yaitu :
• Ilmu harus bebas dari pengandaian-pengandaian nilai. Maksudnya adalah bahwa ilmu harus bebas dari pengaruh eksternal seperti faktor politis, ideologis, religius, kultural dan sosial.
• Diperlukan adanya kebebaasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu terjamin. Kebebasan di sini menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri.
• Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat kemajuan ilmu, karena nilai etis sendiri itu bersifat universal.
Slogan teerkenal di Eropa abad modern, sebagai sikap berontak pada abad pertengahan yang dipandang sebagaai penghambat kebebasan pengembangan ilmu, untuk ilmu adalah science for science, ilmu untuk ilmu, yang dalam ekspresi bidang seni muncul slogan art for art, seni untuk seni. Slogan ini jelas bahwa tujuan pengembangan ilmu adalah untuk ilmu itu sendiri, pengembangan seni adalah untuk ekspresi seni itu sendiri, bukan untuk kepentingan nilai tertentu.
Dalam pandangan ilmu yang bebas nilai, eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi dibenarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri, seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornografi dan pornoaksi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni. Baik ilmu dengan cara demikian seolah tak peduli pada akibat kerusakan lingkungan hidup, contoh untuk hal ini adalah teknologi air condition yang ternyata berpengaruh pada pemanasan global dan lubang ozon, tetapi ilmu pembuatan alat pendingin ruangan itu semata adalah untuk pengembangan teknologi itu, dan tidak peduli dengan akibat pada lingkungan. Setidaknya ada problem nilai ekologis dalam ilmu tersebut, tetapi ilmu yang bebas nilai demi tujuan untuk ilmu itu sendiri barangkali menganggap kepentingan-kepentingan ekologis tersebut bisa menghambat ilmu.
b. Paradigma Terkait Nilai dalam Ilmu
Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai, ilmu yang tidak bebas nilai itu selalu terkait dengan nilai dan harus dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek nilai. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai, lepas dari kepentingan-kepentingan baik politis, ekonomis, sosial, religius, ekologis dan lain sebagaainya.
Salah satu filosof yang memegangi teori value bond adalah Jurgen Habermas. Dia berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkn bebaas nilai karenaa pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. Dia membedakan tiga macam ilmu dengan kepentingan masing-masing. Pengetahuan yang pertama berupa ilmu-ilmu alam yang berupa ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris-analitis. Ilmu-ilmu ini menyelidiki gejala-gejala alam secara empiris dan menyajikan hasil penyelidikan-penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. Teori-teori ilmiah disusun, agar darinya dapat diturunkn pengetahuan-pengetahuan terapaan yang bersifaat teknis. Pengetahuan teknis ini menghasilkan teknologi sebagai upaya manusia mengelola dunia atau alamnya. Maka tampaklah disini bahwa ilmu-ilmu ini memperlihatkan pola hubungan manusia dan dunia, manusia mengolah dan menggarap dunia. Dalam ilmu-ilmu ini ditunjukkan aspek pekerjaan dalam sosialitas manusia (labor), sedang kepentingan manusia yang terkandung dalam ilmu itu adalah prediksi dan pengawasan terhadap alam.
Pengetahuan yang kedua mempunyai pola yang sangat berlainan, sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu, melainkan memahami manusia sebagai sesamanya, memperlancar hubungan sosial. Pengetahuan ini oleh Habermas disebut dengan studi histooris-hermeneutik. Sifat historis memperlihatkan adanya gejala perkembangan dari objek yang diselidiki, yakni manusia. Hasil yang bisa diperoleh dari sini adalah kemampuan komunikasi, saling pengertian karena pemahaman makna. Inilah arti hermeneutik dimaksudkan, yaitu penafsiran menurut tata cara tertentu yang dihasilkan oleh pengetahuan tu. Aspek kemasyarakatan yang dibicarakan disini adalah hubungan sosial atau interaksi, sedangkan kepentingan yang dikejar oleh pengetahuan itu adalah pemahaman makna. Sementara itu pengetahuan ketiga dalah teori kritis, yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. Sadar diri amat dipentingkan di sini. Aspek sosial yang mendasarinya adalah dominasi kekuasaan dan kepentingan yaang dikejar adalah pembebasan atau emansipasi manusia.
Problem ilmu bebas nilai atau tidak sebenarya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan, setidaknya tentang hubungan ilmu dan etika. Pendapat pertama mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu sistem yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak bermaknanya (meaningful or meaningless) dapat ditentukan. Ilmu dipandang semata-mata aktivitas ilmiah, logis dan berbicara tentang fakta semata. Prinsip yang berlaku di sini adalah science for science. Pendapat kedua menyatakan bahwa etika memang dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan seperti pada bidang penyelidikan, putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hail-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu, tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri. Dengan kata lain memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan, namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk-petunjuk untuk putusan-putusan yang secara etis dipertanggungjawabkan. Etika baru mulai ketika ilmu itu berhenti. Pendapat yang ketiga adalah bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan, sebab tujuan utama ilmu adalah untuk kesejahteraan manusia. Ilmu hanya merupakan instrumen bagi manusia untuk mencapai tujuan yang lebih hakiki, yakni kebahagiaan umat manusia. Prinsip yang berlaku bukan science for science melainkan science for mankind, ilmu ditujukan untuk kebaikan umat manusia.
Berlainan dengan etika, ilmu lebih menekankan pentingnya objektivitas kebenaran, bukan nilai. Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. Sehingga dalam kaitan ini, etika sebenarnya tidak termasuk kajian ilmu dan juga anak kandungnya teknologi secara langsung yang bersifat otonom tersebut. Namun demikian, dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu dan teknologi untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi, etika memiliki peran yang sangat menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu dan teknologi selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia dan ekologi.
Jika dikembalikan kepada konotasi pengertian etika yang mengandung nilai kebaikan atau kemanfaatan bagi sesama mnusia baik fisikal maupun mental, maka memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, penjagaan keseimbangan ekosistem, pertanggungjawaban pada kepentingan umum dan kepentingan generasi selanjutnya merupakan suatu keharusan. Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggungjawaban moral dari ilmu. Apabila diperhatikan dengan seksama, sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju perkembanan ilmu, tetapi justru mendorong pengembangan ilmu. Kareana pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia dan keberlangsungan ekologis, maka ketidakpedulian ilmu pada etika bisa memiliki kemungkinan pengabaian pada eksistensi manusia dan ekologis. Jika terjadi hal ini, ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologis bisa mudah terjadi, dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu. Keamanan eksistensi manusia dan keberlangsungan ekologis bagaimanapun merupakan prakondisi bagi kemungkinan dikembangkannya ilmu.
5. Batas- batas Tanggung Jawab Ilmu Pengetahuan
Tanggung jawab ilmu pengetahuan dan teknologi menyangkut tanggung jawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa-masa lalu, sekarang maupun apa akibatnya di masa depan. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. Hal in tentu saja menuntut tanggung jawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkannya dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang terbaik, baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksistensi manusia secara utuh. Dalam bahasa Melsen : Tanggung jawab dalam ilmu pengetahuan dan teknologi menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada.
Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secara tepat dalam kehidupan manusia. Tetapi harus menyadari juga apa yang seharusnya dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia yang seharusnya, baik dalam hubungannya sebagai pribadi, dalam hubungan dengan lingkungaanya maupun sebagai manusia yang bertanggungjawab terhadap Khaliqnya.
Tanggung jawab etis ini tidak dapat lepas dari kesadaran etis manusia, karena menyangkut ketegangan, atau lebih lebih tepat, pendulum antara yang seharusnya dan yang pada kenyataannya. Kesadaran etis ini, memungkinkan manusia dapat memperhitungkan akibat perbuatannya bahkan dapat mengetahui perkembangan – perkembangan ataupun kejadian-kejadian tak terduga di masa depan. Lebih tegas dikatakan bahwa justru melalui kesadaran etis memungkinkan manusia dapat menilai apakah sesuatu dapat membantu atau tidak dapat membantu, mewujudkan manusia yang lebih utuh sebagaiman seharusnya ia ada.
DAFTAR PUSTAKA
Bakry, Hasbullah. Sistematik Filsafat. 1986. Jakarta : Penerbit Widjaja.
Ghazali, Bachri, dkk. Filsafat Ilmu. 2005. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.
Salam, Burhanuddin. Pengantar Filsafat. 1995. Jakarta : Bumi Aksara.
Syafi’ie, Imam. Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Al Quran : Telaah dan Pendekatan Filsafat Ilmu. 2000. Yogyakarta : UII Press.
Zubair, Achmad Charris. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia : Kajian Filsafat Ilmu. 2002. Yogyakarta : LESFI.
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah
Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu : M. Sudin, M.Si
Disusun Oleh :
Nama : Novi Pusparini
NIM : 06600024
PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2008
ETIKA ILMU
1. Pengertian Ilmu Pengetahuan
Kata ilmu merupakan terjemahan dari kata science, yang secara etimologi berasal arti kata Latin scinre artinya to know. Dalam pengertian yang sempit sciene diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan obyektif.
Menurut Harold H. Titus, ilmu (science) diartikan sebagai common sense yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi, yang teliti dan kritis.
Menurut Prof. dr. Mohammad Hatta : “Tiap-tiap ilmu adalah penetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya maupun menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunnya dari dalam.”
Prof. Dr. A. Baiquni Guru Besar Universitas Gajah Mada merumuskan bahwa : “Science merupakan general consensus dari masyarakat yang terdiri dari para scientist.”
Dari beberapa pengertian ilmu di atas, dapat dipeoleh gambaran yang lebih jelas apa yang disebut dengan ilmu. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
2. Kegunaan Ilmu Pengetahuan
Ilmu menghasilkan teknologi, yang memungkinkan manusia dapat bergerak atau bertindak dengan cermat dan tepat, karena ilmu dan teknologi merupakan hasil kerja pengalaman, observasi, eksperimen dan verifikasi.
Dengan ilmu dan teknologi, manusia dapat mengubah wajah dunia di mana manusia tinggal, mengubah cara manusia bekerja, cara manusia berfikir. Dengan ilmu dan teknologi dituntut manusia untuk mengadakan perubahan secara terus-menerus, perbaikan serta penemuan-penemuan baru. Perkembangan industri, perkembangan sosio-budaya, juga perkembangan industri persenjataan merupakan suatu pertanda bahwa ilmu dan teknologi akan berkembang terus.
Dengan ilmu dan teknologi, memungkinkan manusia untuk mengurangi rintangan-rintangan ruang dan waktu, misalnya dengan sistem komunikasi modern, di mana suatu peristiwa yang terjadi pada suatu titik di dunia ini, dalam waktu yang relatif singkat, dengan segera dapat diketahui ke seluruh pelosok dunia.
Beberapa contoh di bawah ini adalah kegunaan dari ilmu dan teknologi bagi kehidupan manusia. Biologi, fisika, matematika, kimia sebagai ilmu murni telah menyumbangkan berbagai teori dan hukum-hukumnya kepada ilmu kedokteran sebagai ilmu terapan (ilmu guna pakai) dalam usaha manusia untuk:
Menghindarkan diri dari penyakit
Menyembuhkan penyakit
Memperbaiki usaha-usaha kehidupan untuk hidup sehat
Dan sebagainya
Fisika modern dewasa ini telah membantu manusia untuk meningkatkan kehidupannya melalui elektro ataupun elektromagnetiknya. Dalam hal ini disebutkan masalah penerangan, masalah komunikasi dengan kapal-kapal jet supersonik dan masih banyak lainnya.
Meskipun ilmu dan teknologi banyak mendatangkan manfaat bagi manusia, namun ada beberapa kekurangan, mungkin dianggap berbahaya karena :
• Ilmu itu obyektif, mengesampingkan penilaian yang sifatnya subyektif, ia mengesampingkan tujuan hidup, sehingga dengan demikian ilmu dan teknologi tidak bisa dijadikan pembimbing bagi manusia dalam menjalani hidup ini.
• Manusia hidup dalam jangka waktu yang panjang, jika ia terbenam dalam dunia fisik, maka akan hampa dari makna hidup yang sebenarnya.
3. Landasan Bagi Eksistensi Ilmu pengetahuan
Kaitan ilmu dengan moral merupakan kontroversi yang tak kunjung padam. Gejala ini mewnyebabkan kekacauan dan salah tafsir mengenai hakikat keilmuan sering terdengar pernyataan yang bersifat umum seperti “ilmu adalah netral” atau “ilmu atidak terbebas dari nilai bisa menyesatkan dn hanya bisa ditafsirkan dengan benar sekiranya dikaitkan dengan aspek atau komponen keilmuan. Komponen tersebut adalah :
a. Ontologi
Secara ontologis, ilmu membahas lingkup penelaah keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Obyek penelaah yang berada dalam batas prapengalaman dan pascapengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas-batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistemologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris kedalam proses penemuan/ penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah.
Penafsiran metafisik keilmuan harus didasarkan kepada karakteristik obyek ontologis sebagaiman adanya (das sein) dengan deduksi-deduksi yang dapat diverifikasi secara fisik.
Secara metafisik ilmu terbebas dari nilai-nilai yang bersifat dogmatik. Galileo (1564-1642) menolak dogma agama bahwa “matahari berputar mengelilingi bumi” sebab pernyataan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan faktual sebagaimana ditemukan oleh Copernicus (1473-1543). Begitu juga menurut Bacon, filsafat harus dipisahkan dari teologi. Pandangan ini sebagai salah satu faktor munculnya paham sekularisme di Barat. Hal ini dapat dimaklumi bahwa dogma agama saat iru bukan hanya dianggap tidak rasional, melainkan bertentangan dengan penemuan ilmiah.
Untuk membebaskan ilmu dari nilai-nilai yang bersifat dogmatis yang datang dari manapun juga asalnya, bukan berarti ilmu harus menolak nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat, namun sifat dogmatis itulah yang secara prinsip ditentang.
Menurut sejumlah kaum objektivisme atau positivisme, seorang sejarawan misalnya, hendaknya menghindari setiap pertimbangan nilai sendiri yang manapun terhadap gejala-gejala yang termasuk dalam lapangan penyelidikannya. Kiranya sukar untuk menentukan secara tepat sejauh mana ia boleh bertindak, dan dimanakah secara tepat batas yang tidak boleh dilampauinya, agar ia tidak dikatakan melampaui wewenangnya. Sebetulnya hal semacam ini tidak perlu dipertentangkan, sebab kecenderungan untuk memaksakan nilai-nilai moral secara dogmatik ke dalam argumentasi ilmiah akan mendorong ilmu surut ke belakang ke zaman pra Copernicus dan mengundang kemungkinan berlangsunnya inquisisi ala galileo pada zaman modern, namaun hal ini jangan ditafsirkan bahwa dalam menelaah das sein ilmu terlepas sama sekali dari das sollen.
b. Epistimologi
Landasan epistimologi ilmu yang tercermin secara operasional dalam metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan : (1) kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun; (2) menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut dan (3) melakukan verifikasi terhadap hipotesis termasuk untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual.
Metodologi dalam penelitian memegang peranan penting; sebab metode yang dipergunakan dalam suatu penelitian dapat digunakan untuk mengukur seberapa jauh kadar kebenaran hasil penemuan. Di Barat, metodologi bagi para ilmuwan tidak banyak kesulitan, tetapi bagi orag Timur khususnya di Indonesia penerapan metode penelitian masih perlu dipertanyakan. Padahal setiap kegiatan ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual. Sehingga ilmu pengetahuan dalam arti sepenuhnya sulit berkembang di Indonesia selama kejujuran diabaikan, budaya nyontek masih tetap berjalan, manipulais data untuk membenarkan hipotesisnya masih diupayakan.
c. Aksiologi
Pada dasrnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia. Dalam hal ini ilmu dapat dimanfaatka sebagai sarana dalam meningkatkan taraf hidup, manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia dan kelestrian/keseimbangan alam. Salah satu alasan untuk tidak mencampuri masalah kehidupan secara ontologis adalah kekhawatiran bahwa hal ini akan mengganggu keseimbangan kehidupan.
Demi kepentingan manusia tersebut maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komunal dan universal. Komunal berarti bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti bahwa ilmu tidak mempunyai parokial seperti ras, ideologi atau agama.
Jika manusia menyadari sepenuhnya bahwa keberadaan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan manusia, maka tidak akan pernah terjadi peperangan di muka bumi ini. Peperangan, pembantaian yang menimbulkan korban yang tidak sedikit jumlahnya tidak dapat dihindarkan, hal ini menunjukan bahwa persepsi dan pandangan terhadap kemaslahatan pun tidak ada kesamaan, sehingga maslahat bagi satu pihak mudarat bagi pihak lain.
4. Etika Ilmu : Problem Nilai dalam Ilmu
Istilah etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat-kebiasaan. Dalam istilah lain dinamakan moral yang berasal dari bahasa Latin mores, kata jamak dari mos yang berarti adat-kebiasaan. Dalam bahasa Arab disebut akhlak yang berarti budi pekerti dan dalam bahasa Indoesia dinamakan tata-susila.
Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Selain etika yang termasuk dalam kajian aksiologis adalah estetika atau teori tentang keindahan. Etika sering disamakan dengan moralitas,padahal berbeda. Moralitas adalah nilai-nila perilaku orang atau masyarakat sebagaimana bisa ditemukan dalam kehidupan real manusia sehari-hari, yang belum disistematisasi sebagai suatu teori. Ketika perilaku-perilaku moral dirumuskan menjadi teori-teori, maka ia disebut sebagai etika. Jadi etika secara umum bisa dikatakan sebagai theoris, or philosophical study, of human moral values and conducts atau teori-teori atau studi filosofis tentang perilaku moral manusia. Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral, prinsip-prnsip moral dasar apa yang harus manusia ikuti, dan apa yang baik bagi manusia.
Dalam etika yang lebih ditekankan adalah masalah nilai baik dan buruknya suatu tindakan manusia, bukan masalah kebenaran suatu perbuatan manusia. Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis, yakni asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik atau buruk, yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakatdan seringkali tanpa disadari, menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. Dalam pengertian ini, etika sama dengan filsafat moral. Kata baik tersebut memiliki konotasi apakah perbuatan seseorang itu mempunyai nilai kebaikan bagi orang lain, maksudnya tidak merugikan bagi eksistensi orang lain dan malah sebaliknya member manfaat. Ketika berbicara etika dalam kaitannya dengan ilmu berarti menyangkut persoalan-persoalan nilai dalam ilmu baik isinya maupun penggunaannya, apakah ilmu adalah bebas nilai atau tidak ada keterkaitan sama sekali dengan etika dan apakah ilmu itu tidak bebas nilai atau terkait erat dengan etika..
a. Paradigma Bebas Nilai dalam Ilmu
Paradigma ilmu bebaas nilai atau dalam bahasa Inggris sering disebut dengan value free mengatakan bahwa ilmu dan juga teknologi adalah bersifat otonom. Ilmu secaara otonom tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan nilai. Pembatasan-pembatasan etis hanya akan menghalangi eksplorasi pengembangan ilmu. Bebas nilai berarti semua kegiatan terkait dengan penyelidikan ilmiah harus disandarkan pada hakikat ilmu tu sendiri. Ilmu menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu itu sendiri. Josep Situmorang menyatakan bahwa sekurangnya ada tiga faktor sebagai indikator bahwa ilmu itu bebas nilai, yaitu :
• Ilmu harus bebas dari pengandaian-pengandaian nilai. Maksudnya adalah bahwa ilmu harus bebas dari pengaruh eksternal seperti faktor politis, ideologis, religius, kultural dan sosial.
• Diperlukan adanya kebebaasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu terjamin. Kebebasan di sini menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri.
• Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat kemajuan ilmu, karena nilai etis sendiri itu bersifat universal.
Slogan teerkenal di Eropa abad modern, sebagai sikap berontak pada abad pertengahan yang dipandang sebagaai penghambat kebebasan pengembangan ilmu, untuk ilmu adalah science for science, ilmu untuk ilmu, yang dalam ekspresi bidang seni muncul slogan art for art, seni untuk seni. Slogan ini jelas bahwa tujuan pengembangan ilmu adalah untuk ilmu itu sendiri, pengembangan seni adalah untuk ekspresi seni itu sendiri, bukan untuk kepentingan nilai tertentu.
Dalam pandangan ilmu yang bebas nilai, eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi dibenarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri, seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornografi dan pornoaksi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni. Baik ilmu dengan cara demikian seolah tak peduli pada akibat kerusakan lingkungan hidup, contoh untuk hal ini adalah teknologi air condition yang ternyata berpengaruh pada pemanasan global dan lubang ozon, tetapi ilmu pembuatan alat pendingin ruangan itu semata adalah untuk pengembangan teknologi itu, dan tidak peduli dengan akibat pada lingkungan. Setidaknya ada problem nilai ekologis dalam ilmu tersebut, tetapi ilmu yang bebas nilai demi tujuan untuk ilmu itu sendiri barangkali menganggap kepentingan-kepentingan ekologis tersebut bisa menghambat ilmu.
b. Paradigma Terkait Nilai dalam Ilmu
Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai, ilmu yang tidak bebas nilai itu selalu terkait dengan nilai dan harus dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek nilai. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai, lepas dari kepentingan-kepentingan baik politis, ekonomis, sosial, religius, ekologis dan lain sebagaainya.
Salah satu filosof yang memegangi teori value bond adalah Jurgen Habermas. Dia berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkn bebaas nilai karenaa pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. Dia membedakan tiga macam ilmu dengan kepentingan masing-masing. Pengetahuan yang pertama berupa ilmu-ilmu alam yang berupa ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris-analitis. Ilmu-ilmu ini menyelidiki gejala-gejala alam secara empiris dan menyajikan hasil penyelidikan-penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. Teori-teori ilmiah disusun, agar darinya dapat diturunkn pengetahuan-pengetahuan terapaan yang bersifaat teknis. Pengetahuan teknis ini menghasilkan teknologi sebagai upaya manusia mengelola dunia atau alamnya. Maka tampaklah disini bahwa ilmu-ilmu ini memperlihatkan pola hubungan manusia dan dunia, manusia mengolah dan menggarap dunia. Dalam ilmu-ilmu ini ditunjukkan aspek pekerjaan dalam sosialitas manusia (labor), sedang kepentingan manusia yang terkandung dalam ilmu itu adalah prediksi dan pengawasan terhadap alam.
Pengetahuan yang kedua mempunyai pola yang sangat berlainan, sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu, melainkan memahami manusia sebagai sesamanya, memperlancar hubungan sosial. Pengetahuan ini oleh Habermas disebut dengan studi histooris-hermeneutik. Sifat historis memperlihatkan adanya gejala perkembangan dari objek yang diselidiki, yakni manusia. Hasil yang bisa diperoleh dari sini adalah kemampuan komunikasi, saling pengertian karena pemahaman makna. Inilah arti hermeneutik dimaksudkan, yaitu penafsiran menurut tata cara tertentu yang dihasilkan oleh pengetahuan tu. Aspek kemasyarakatan yang dibicarakan disini adalah hubungan sosial atau interaksi, sedangkan kepentingan yang dikejar oleh pengetahuan itu adalah pemahaman makna. Sementara itu pengetahuan ketiga dalah teori kritis, yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. Sadar diri amat dipentingkan di sini. Aspek sosial yang mendasarinya adalah dominasi kekuasaan dan kepentingan yaang dikejar adalah pembebasan atau emansipasi manusia.
Problem ilmu bebas nilai atau tidak sebenarya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan, setidaknya tentang hubungan ilmu dan etika. Pendapat pertama mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu sistem yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak bermaknanya (meaningful or meaningless) dapat ditentukan. Ilmu dipandang semata-mata aktivitas ilmiah, logis dan berbicara tentang fakta semata. Prinsip yang berlaku di sini adalah science for science. Pendapat kedua menyatakan bahwa etika memang dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan seperti pada bidang penyelidikan, putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hail-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu, tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri. Dengan kata lain memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan, namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk-petunjuk untuk putusan-putusan yang secara etis dipertanggungjawabkan. Etika baru mulai ketika ilmu itu berhenti. Pendapat yang ketiga adalah bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan, sebab tujuan utama ilmu adalah untuk kesejahteraan manusia. Ilmu hanya merupakan instrumen bagi manusia untuk mencapai tujuan yang lebih hakiki, yakni kebahagiaan umat manusia. Prinsip yang berlaku bukan science for science melainkan science for mankind, ilmu ditujukan untuk kebaikan umat manusia.
Berlainan dengan etika, ilmu lebih menekankan pentingnya objektivitas kebenaran, bukan nilai. Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. Sehingga dalam kaitan ini, etika sebenarnya tidak termasuk kajian ilmu dan juga anak kandungnya teknologi secara langsung yang bersifat otonom tersebut. Namun demikian, dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu dan teknologi untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi, etika memiliki peran yang sangat menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu dan teknologi selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia dan ekologi.
Jika dikembalikan kepada konotasi pengertian etika yang mengandung nilai kebaikan atau kemanfaatan bagi sesama mnusia baik fisikal maupun mental, maka memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, penjagaan keseimbangan ekosistem, pertanggungjawaban pada kepentingan umum dan kepentingan generasi selanjutnya merupakan suatu keharusan. Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggungjawaban moral dari ilmu. Apabila diperhatikan dengan seksama, sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju perkembanan ilmu, tetapi justru mendorong pengembangan ilmu. Kareana pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia dan keberlangsungan ekologis, maka ketidakpedulian ilmu pada etika bisa memiliki kemungkinan pengabaian pada eksistensi manusia dan ekologis. Jika terjadi hal ini, ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologis bisa mudah terjadi, dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu. Keamanan eksistensi manusia dan keberlangsungan ekologis bagaimanapun merupakan prakondisi bagi kemungkinan dikembangkannya ilmu.
5. Batas- batas Tanggung Jawab Ilmu Pengetahuan
Tanggung jawab ilmu pengetahuan dan teknologi menyangkut tanggung jawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa-masa lalu, sekarang maupun apa akibatnya di masa depan. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. Hal in tentu saja menuntut tanggung jawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkannya dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang terbaik, baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksistensi manusia secara utuh. Dalam bahasa Melsen : Tanggung jawab dalam ilmu pengetahuan dan teknologi menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada.
Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secara tepat dalam kehidupan manusia. Tetapi harus menyadari juga apa yang seharusnya dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia yang seharusnya, baik dalam hubungannya sebagai pribadi, dalam hubungan dengan lingkungaanya maupun sebagai manusia yang bertanggungjawab terhadap Khaliqnya.
Tanggung jawab etis ini tidak dapat lepas dari kesadaran etis manusia, karena menyangkut ketegangan, atau lebih lebih tepat, pendulum antara yang seharusnya dan yang pada kenyataannya. Kesadaran etis ini, memungkinkan manusia dapat memperhitungkan akibat perbuatannya bahkan dapat mengetahui perkembangan – perkembangan ataupun kejadian-kejadian tak terduga di masa depan. Lebih tegas dikatakan bahwa justru melalui kesadaran etis memungkinkan manusia dapat menilai apakah sesuatu dapat membantu atau tidak dapat membantu, mewujudkan manusia yang lebih utuh sebagaiman seharusnya ia ada.
DAFTAR PUSTAKA
Bakry, Hasbullah. Sistematik Filsafat. 1986. Jakarta : Penerbit Widjaja.
Ghazali, Bachri, dkk. Filsafat Ilmu. 2005. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.
Salam, Burhanuddin. Pengantar Filsafat. 1995. Jakarta : Bumi Aksara.
Syafi’ie, Imam. Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Al Quran : Telaah dan Pendekatan Filsafat Ilmu. 2000. Yogyakarta : UII Press.
Zubair, Achmad Charris. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia : Kajian Filsafat Ilmu. 2002. Yogyakarta : LESFI.
Senin, 26 Oktober 2009
PENGEMBANGAN PERENCANAAN MEDIA PEMBELAJARAN
PENGEMBANGAN PERENCANAAN MEDIA PEMBELAJARAN
A.Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.
Lesle J. Briggs (1979) menyatakan media adalah alat untuk member perangsang bagi peserta didik supaya terjadi proses belajar.
Rossi dan Breidle juga menyatakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk tujuan pendidikan, seperti radio, televise, buku, Koran, majalah, dan sebagainya.
Menurut Gerlach dan Ely (1980) secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan sikap.
Jadi, dalam pengertian ini media bukan hanya alat perantara seperti tv, radio, slide, bahan cetakan, akan tetapi meliputi orang atau manusia sebagai sumber belajar atau juga berupa kegiatan semacam diskusi, seminar, karyawisata, simulasi dan lain sebagainya yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, mengubah sikap siswa atau untuk menambah ketrampilan.
B.Fungsi Media Pembelajaran
Secara khusus media pembelajaran memiliki fungsi dan berperan sebagai berikut :
1.Menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu
Peristiwa-peristiwa penting atau objek yang langka dapat diabadikan dengan foto, film atau direkam melalui video atau audio, kemudian peristiwa itu dapat disimpan dan digunakan manakala diperlukan.
2.Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu
Melalui media pembelajaran, guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak menjadi konkret sehingga mudah dipahami dan dapat menghilangkan verbalisme. Misalkan untuk menyampaikan bahan pelajaran tentang system peredaran darah pada manusia, dapat disajikan melalui film.
3.Menambah gairah dan motivasi belajar siswa
Penggunaan media dapat menambah motivasi belajar siswa sehingga perhatian siswa terhadap materi pembelajaran dapat lebih meningkat.
4.Media pembelajaran memiliki nilai praktis, antara lain sebagai berikut:
a.Media dapat mengatasi keterbatasan pengetahuan yang dimiliki siswa.
b.Media dapat mengatasi batas ruang kelas.
c.Media dapat memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara peserta dengan lingkungan.
d.Media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan.
e.Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, nyata, dan tepat.
f.Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang peserta untuk belajar dengan baik.
g.Media dapat membangkitkan keinginan dan minat baru.
h.Media dapat mengontrol kecepatan belajar siswa.
i.Media dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dari hal-hal yang konkret sampai yang abstrak
A.Karakteristik Media Pembelajaran
1.Media Grafis (Visual Diam)
Secara sederhana media grafis dapat diartikan sebagai media yang mengandung pesan yang dituangkan dalam bentuk tulisan, huruf-huruf, gambar-gambar, dan symbol-symbol yang mengandung arti. Media grafis termasuk media visual diam. Macam-macam media grafis antara lain :
a.Gambar/foto
Gambar/foto merupakan salah satu media grafis yang paling umum digunakan dalam proses pembelajaran karena memiliki beberapa kelebihan antara lain : sifatnya konkret, lebih realitas disbandingkan dengan media verbal, dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang apa saja, murah harganya dan tidak perlu peralatan khusus untuk menyajikannya.
b.Diagram
Diagram adalah gambar sederhana yang menggunakan garis-garis dan symbol-simbol untuk menunjukkan hubungan antara komponen atau menggambarkan suatu proses tertentu.
c.Bagan
Bagan atau yang sering disebut dengan chart adalah media grafis yang didesain untuk menyajikan ringkasan visual secara jelas dari suatu proses yang penting.
d.Poster
Poster adalah media yang digunakan untuk menyampaikan suatu informasi, saran atau ide tertentu, sehingga dapat merangsang keinginan yang melihatnya untuk melaksanakan isi pesan
e.Grafik (Graph)
Grafik adalah media visual berupa garis atau gambar yang dapat memberikan informasi mengenai keadaan atau perkembangan sesuatu berdasarkan data secara kuantitatif.
2.Media Proyeksi
Media proyeksi adalah media yang dapat digunakan dengan bantuan proektor. Berbeda dengan media grafis, media ini harus menggunakan alat elektronik untuk menampilkan informasi atau pesan. Oleh sebab itu, media ini dapat digunakan apabila tersedia fasilitas yang dibutuhkan untuk itu. Namun demikian, media yang tergolong pada kelompok media proyeksi sama-sama mengandalkan rangsangan visual. Beberapa jenis media proyeksi yang sering digunakan adalah film bingkai (slide) dan over head transparency (OHT) yang disajikan dengan bantuan over head projector (OHP).
3.Media audio
Media audio adalah media atau bahan yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara) yang dapat merangsang pikiran dan perasaan pendengar sehingga terjadi proses belajar. Contoh dari media ini adalah radio dan tape.
Penggunaan media audio dalam pembelajaran dibatasi hanya oleh imajinasi guru dan siswa. Media audio dapat digunakan dalam semua fase pembelajaran mulai dari pengantar atau pembukaan ketika memperkenalkan topik bahasan sampai kepada evaluasi hasil belajar siswa. Penggunaan media audio sangat mendukung system pembelajaran tuntas (mastery learning). Siswa yang belajarnya lamban dapat memutar kembali dan mengulangi bagian-bagian yang belum dikuasainya. Di lain pihak, siswa yang dapat belajar dengan cepat bisa maju terus sesuai dengan tingkat kecepatan belajarnya.
4.Media Komputer
Komputer merupakan jenis media yang secara virtual dapat menyediakan respons yang segera terhadap hasil belajar yang dilakukan oleh siswa. Lebih dari itu, computer memiliki kemampuan menyimpan dan memanipulasi informasi sesuai kebutuhan.
Saat ini teknologi computer tidak lagi hanya digunakan sebagai sarana komputerisasi dan pengolahan kata (word processor) tetapi juga sebagai sarana belajar multimedia yang memungkinkan peserta didik dapat membuat desain dan rekayasa suatu konsep dan ilmu pengetahuan. Sajian multimedia berbasis computer dapat diartikan sebagai teknologi yang mengoptimalkan peran computer sebagai sarana untuk merekayasa teks, grafik, dan suara dalam sebuah tampilan yang terintegrasi. Dengan tampilan yang dapat mengombinasikan berbagai unsure penyampaian informasi dan pesan, computer dapat dirancang dan digunakan sebagai media yang efektif untuk mempelajari dan mengajarkan materi pembelajaran yang relevan misalnya rancangan grafis dan animasi.
Perkembangan teknologi computer saat ini telah membentuk jaringan yang dapat memberi kemungkinan bagi siswa untuk berinteraksi dengan sumber belajar secara luas. Jaringan computer berupa internet dan web telah membuka akses bagi setiap orang untuk memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan yang actual dalam berbagai bidang studi. Diskusi dan interaksi keilmuan dapat terselenggara melalui tersedianya fasilitas internet dan web di sekolah.
Beberapa bentuk penggunaan computer sebgai media yang dapat digunakan dalam pembelajaran meliputi :
a.Penggunaan Multimedia Presentasi
Multimedia presentasi digunakan untuk menjelaskan materi-materi yang sifatnya teoritis, digunakan dalam pembelajaran klasikal dengan kelompok besar. Untuk kebutuhan presentasi, multimedia ini cukup efektif sebab dapat menggunakan proyektor yang memiliki jangkauan pancar yang cukup besar. Kelebihan multimedia ini adalah dapat menggabungkan semua unsure media, seperti teks, video, animasi, grafik, dan sound menjadi satu kesatuan penyajian, sehingga mengakomodasi sesuai dengan modalitas belajar siswa. Program ini dapat mengakomodasi siswa yang memiliki tipe visual, auditif, maupun kinestetis.
b.CD Multimedia Interaktif
CD Interaktif dapat digunakan pada berbagai jenjang pendidikan dan berbagai bidang ilmu. Sifat media ini selain interaktif juga bersifat multimedia terdapat unsure-unsur media secara lengkap yang mliputi sounds, animasi, video, teks, dan grafis.
c.Pemanfaatan Internet
Pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran mengkondisikan siswa untuk belajar secara mandiri. Para siswa dapat mengakses secara online dari perpustakaan, museum, database, dan mendapatkan sumber primer tentang berbagai peristiwa sejarah, biografi, rekaman, dan laporan data statistic.
B.Prinsip-prinsip pemilihan dan penggunaan media
1.Prinsip Pemilihan Media
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pemilihan media, antara lain:
a.Pemilihan media harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
b.Pemilihan media harus berdasarkan konsep yang jelas.
c.Pemilihan media harus disesuaikan dengan karakteristik siswa.
d.Pemilihan media harus sesuai dengan gaya belajar siswa serta gaya dan kemampuan guru.
e.Pemilihan media harus sesuai dengan kondisi lingkungan, fasilitas, dan waktu yang tersedia untuk kebutuhan pembelajaran.
2.Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran
Ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan agar media pembelajaran benar-benar digunakan untuk membelajarkan siswa, yaitu :
a.Media yang digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
b.Media yang akan digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran.
c.Media pembelajaran harus sesuai minat, kebutuhan, dan kondisi siswa.
d.Media yang akan digunakan harus memperhatikan efektivitas dan efisien.
e.Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoperasikannya.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. Media Pembelajaran. 2007. Jakarta : Rajagrafindo Persada.
Ibrahim, R dan Nana Syaodih S. Perencanaan Pengajaran. 2003. Jakarta : Depdikbud dan Rineka Cipta.
Sanjaya, Wina. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. 2009. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
A.Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.
Lesle J. Briggs (1979) menyatakan media adalah alat untuk member perangsang bagi peserta didik supaya terjadi proses belajar.
Rossi dan Breidle juga menyatakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk tujuan pendidikan, seperti radio, televise, buku, Koran, majalah, dan sebagainya.
Menurut Gerlach dan Ely (1980) secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan sikap.
Jadi, dalam pengertian ini media bukan hanya alat perantara seperti tv, radio, slide, bahan cetakan, akan tetapi meliputi orang atau manusia sebagai sumber belajar atau juga berupa kegiatan semacam diskusi, seminar, karyawisata, simulasi dan lain sebagainya yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, mengubah sikap siswa atau untuk menambah ketrampilan.
B.Fungsi Media Pembelajaran
Secara khusus media pembelajaran memiliki fungsi dan berperan sebagai berikut :
1.Menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu
Peristiwa-peristiwa penting atau objek yang langka dapat diabadikan dengan foto, film atau direkam melalui video atau audio, kemudian peristiwa itu dapat disimpan dan digunakan manakala diperlukan.
2.Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu
Melalui media pembelajaran, guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak menjadi konkret sehingga mudah dipahami dan dapat menghilangkan verbalisme. Misalkan untuk menyampaikan bahan pelajaran tentang system peredaran darah pada manusia, dapat disajikan melalui film.
3.Menambah gairah dan motivasi belajar siswa
Penggunaan media dapat menambah motivasi belajar siswa sehingga perhatian siswa terhadap materi pembelajaran dapat lebih meningkat.
4.Media pembelajaran memiliki nilai praktis, antara lain sebagai berikut:
a.Media dapat mengatasi keterbatasan pengetahuan yang dimiliki siswa.
b.Media dapat mengatasi batas ruang kelas.
c.Media dapat memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara peserta dengan lingkungan.
d.Media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan.
e.Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, nyata, dan tepat.
f.Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang peserta untuk belajar dengan baik.
g.Media dapat membangkitkan keinginan dan minat baru.
h.Media dapat mengontrol kecepatan belajar siswa.
i.Media dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dari hal-hal yang konkret sampai yang abstrak
A.Karakteristik Media Pembelajaran
1.Media Grafis (Visual Diam)
Secara sederhana media grafis dapat diartikan sebagai media yang mengandung pesan yang dituangkan dalam bentuk tulisan, huruf-huruf, gambar-gambar, dan symbol-symbol yang mengandung arti. Media grafis termasuk media visual diam. Macam-macam media grafis antara lain :
a.Gambar/foto
Gambar/foto merupakan salah satu media grafis yang paling umum digunakan dalam proses pembelajaran karena memiliki beberapa kelebihan antara lain : sifatnya konkret, lebih realitas disbandingkan dengan media verbal, dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang apa saja, murah harganya dan tidak perlu peralatan khusus untuk menyajikannya.
b.Diagram
Diagram adalah gambar sederhana yang menggunakan garis-garis dan symbol-simbol untuk menunjukkan hubungan antara komponen atau menggambarkan suatu proses tertentu.
c.Bagan
Bagan atau yang sering disebut dengan chart adalah media grafis yang didesain untuk menyajikan ringkasan visual secara jelas dari suatu proses yang penting.
d.Poster
Poster adalah media yang digunakan untuk menyampaikan suatu informasi, saran atau ide tertentu, sehingga dapat merangsang keinginan yang melihatnya untuk melaksanakan isi pesan
e.Grafik (Graph)
Grafik adalah media visual berupa garis atau gambar yang dapat memberikan informasi mengenai keadaan atau perkembangan sesuatu berdasarkan data secara kuantitatif.
2.Media Proyeksi
Media proyeksi adalah media yang dapat digunakan dengan bantuan proektor. Berbeda dengan media grafis, media ini harus menggunakan alat elektronik untuk menampilkan informasi atau pesan. Oleh sebab itu, media ini dapat digunakan apabila tersedia fasilitas yang dibutuhkan untuk itu. Namun demikian, media yang tergolong pada kelompok media proyeksi sama-sama mengandalkan rangsangan visual. Beberapa jenis media proyeksi yang sering digunakan adalah film bingkai (slide) dan over head transparency (OHT) yang disajikan dengan bantuan over head projector (OHP).
3.Media audio
Media audio adalah media atau bahan yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara) yang dapat merangsang pikiran dan perasaan pendengar sehingga terjadi proses belajar. Contoh dari media ini adalah radio dan tape.
Penggunaan media audio dalam pembelajaran dibatasi hanya oleh imajinasi guru dan siswa. Media audio dapat digunakan dalam semua fase pembelajaran mulai dari pengantar atau pembukaan ketika memperkenalkan topik bahasan sampai kepada evaluasi hasil belajar siswa. Penggunaan media audio sangat mendukung system pembelajaran tuntas (mastery learning). Siswa yang belajarnya lamban dapat memutar kembali dan mengulangi bagian-bagian yang belum dikuasainya. Di lain pihak, siswa yang dapat belajar dengan cepat bisa maju terus sesuai dengan tingkat kecepatan belajarnya.
4.Media Komputer
Komputer merupakan jenis media yang secara virtual dapat menyediakan respons yang segera terhadap hasil belajar yang dilakukan oleh siswa. Lebih dari itu, computer memiliki kemampuan menyimpan dan memanipulasi informasi sesuai kebutuhan.
Saat ini teknologi computer tidak lagi hanya digunakan sebagai sarana komputerisasi dan pengolahan kata (word processor) tetapi juga sebagai sarana belajar multimedia yang memungkinkan peserta didik dapat membuat desain dan rekayasa suatu konsep dan ilmu pengetahuan. Sajian multimedia berbasis computer dapat diartikan sebagai teknologi yang mengoptimalkan peran computer sebagai sarana untuk merekayasa teks, grafik, dan suara dalam sebuah tampilan yang terintegrasi. Dengan tampilan yang dapat mengombinasikan berbagai unsure penyampaian informasi dan pesan, computer dapat dirancang dan digunakan sebagai media yang efektif untuk mempelajari dan mengajarkan materi pembelajaran yang relevan misalnya rancangan grafis dan animasi.
Perkembangan teknologi computer saat ini telah membentuk jaringan yang dapat memberi kemungkinan bagi siswa untuk berinteraksi dengan sumber belajar secara luas. Jaringan computer berupa internet dan web telah membuka akses bagi setiap orang untuk memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan yang actual dalam berbagai bidang studi. Diskusi dan interaksi keilmuan dapat terselenggara melalui tersedianya fasilitas internet dan web di sekolah.
Beberapa bentuk penggunaan computer sebgai media yang dapat digunakan dalam pembelajaran meliputi :
a.Penggunaan Multimedia Presentasi
Multimedia presentasi digunakan untuk menjelaskan materi-materi yang sifatnya teoritis, digunakan dalam pembelajaran klasikal dengan kelompok besar. Untuk kebutuhan presentasi, multimedia ini cukup efektif sebab dapat menggunakan proyektor yang memiliki jangkauan pancar yang cukup besar. Kelebihan multimedia ini adalah dapat menggabungkan semua unsure media, seperti teks, video, animasi, grafik, dan sound menjadi satu kesatuan penyajian, sehingga mengakomodasi sesuai dengan modalitas belajar siswa. Program ini dapat mengakomodasi siswa yang memiliki tipe visual, auditif, maupun kinestetis.
b.CD Multimedia Interaktif
CD Interaktif dapat digunakan pada berbagai jenjang pendidikan dan berbagai bidang ilmu. Sifat media ini selain interaktif juga bersifat multimedia terdapat unsure-unsur media secara lengkap yang mliputi sounds, animasi, video, teks, dan grafis.
c.Pemanfaatan Internet
Pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran mengkondisikan siswa untuk belajar secara mandiri. Para siswa dapat mengakses secara online dari perpustakaan, museum, database, dan mendapatkan sumber primer tentang berbagai peristiwa sejarah, biografi, rekaman, dan laporan data statistic.
B.Prinsip-prinsip pemilihan dan penggunaan media
1.Prinsip Pemilihan Media
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pemilihan media, antara lain:
a.Pemilihan media harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
b.Pemilihan media harus berdasarkan konsep yang jelas.
c.Pemilihan media harus disesuaikan dengan karakteristik siswa.
d.Pemilihan media harus sesuai dengan gaya belajar siswa serta gaya dan kemampuan guru.
e.Pemilihan media harus sesuai dengan kondisi lingkungan, fasilitas, dan waktu yang tersedia untuk kebutuhan pembelajaran.
2.Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran
Ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan agar media pembelajaran benar-benar digunakan untuk membelajarkan siswa, yaitu :
a.Media yang digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
b.Media yang akan digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran.
c.Media pembelajaran harus sesuai minat, kebutuhan, dan kondisi siswa.
d.Media yang akan digunakan harus memperhatikan efektivitas dan efisien.
e.Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoperasikannya.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. Media Pembelajaran. 2007. Jakarta : Rajagrafindo Persada.
Ibrahim, R dan Nana Syaodih S. Perencanaan Pengajaran. 2003. Jakarta : Depdikbud dan Rineka Cipta.
Sanjaya, Wina. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. 2009. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Langganan:
Komentar (Atom)